Friday, 25 April 2014

B E L I E V E (Fanfiction) #3

Tittle : B E L I E V E

Main Cast : Justin Drew Bieber as him self
Jjesslyn Rose Smith as you
Austin Mahone as him self
Ariana Grande as her self

Support Cast : Others.

Summary : Cause everything starts from something.but something would be nothing.Nothing if your heart didn't dream with me.Where would I be, if you didn't believe




***

Author POV

"Hentikan mobil ini ! Aku tidak tahan !"

Jjesslyn terus-terusan berteriak karena Justin yang sedari tadi menyetir seperti orang kesetanan,yah dia mengendalikan mobil itu dengan kecepatan diatas rata-rata.

"Tidak akan,sebelum kau penuhi permintaan ku yang tadi"

"Bieber!!!!"

Justin mengacuhkan teriakan Jjesslyn,
"Oh,kau ingin yang lebih kencang dari ini?Aku bisa melakukannya" sahut Justin dengan cuek dan menambah gigi 

"Enough! Ok fine ! Aku mau !!" ujar Jjesslyn pasrah dan masih memejamkan matanya dan berpegangan erat ke pegangan yang berada dilangit langit mobil mewah Justin.
Beberapa detik setelah Jjesslyn berkata seperti itu,senyum Justin mengembang dan mulai memelankan kecepatan mobilnya.
Mata hazelnya begitu berbinar-binar
Ya sebenarnya alasan Justin berkendara seperti setan itu hanya satu,membujuk Jjesslyn untuk ikut dia ke suatu tempat,tapi karena alasan 'lelah' Jjesslyn menolaknya,dan muncul-lah ide seperti tadi dikepala Justin.


Jjesslyn memegang dadanya,dan mulai membuka matanya dan menarik nafas lega."Kau kenapa sih?sebegitu inginnya aku menemani mu ke 'suatu tempat' itu?" ujar Jjesslyn ketus dengan memberi kutip dengan kedua tangannya dikata 'suatu tempat'

"Yah,aku memang sangat ingin kau menemani ku kesana,sudahlah ikut saja"balas Justin dengan agak parau

Jjesslyn hanya memutar bola matanya dan melemparkan pandangannya ke jalan,ia terus bertanya tanya sebenarnya ia mau dibawa kemana oleh Justin?ia sudah merasa sedang diculik oleh penculik tampan nan keren.
Selang 25 menit,Jjesslyn melihat sekelilingnya,dan ini adalah pemandangan yang tak ia kenal,namun jujur,ini adalah pemandangan yang indah.

Justin memberhentikan mobilnya di sebuah bukit,dia keluar dan memberi kode pada Jjesslyn untuk ikut keluar juga.
Jjesslyn menarik nafas lalu meraih kenop pintu mobil mewah itu dan keluar,ia mendapati Justin sedang merebahkan tubuhnya di tanah yang beralaskan rumput hijau yang subur itu.Ia menutupi matanya dengan kedua tangannya.
Jjesslyn menjatuhkan bokongnya disebelah Justin dan menatapnya heran,"Kau bingung ya kenapa aku membawa mu kesini?" ujar Justin tanpa melirik Jjesslyn dan masih dalam posisi yang sama

"Ya tentu saja aku bingung"

Kemudian Justin membetulkan posisinya menjadi duduk,dan ia memiringkan tubuhnya untuk menatap Jjesslyn
Jjesslyn hanya menengok dan menatap mata hazel Justin yang indah.Selama beberapa saat mereka hanya beradu pandang,seakan-akan tenggelam pada pandangan orang dihadapannya masing masing.

"Yah,aku hanya mau menentramkan hati ku,aku selalu kesini jika aku sedang ada masalah" ujar Justin memecah keheningan seraya menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya,terdengar sekali nada suaranya yang agak memelan itu bahwa ia memang benar sedang memiliki masalah

"Hm?jadi sekarang kau sedang ada masalah?" jawab Jjesslyn seraya membetulkan posisinya,ia ikut memiringkan tubuhnya menghadap Justin

Justin hanya mengangguk lemah tanpa menjawab,"Apa masalah mu?" Jjesslyn mencoba untuk bertanya dengan lembut

"I miss...my dad" ucap Justin lirih

Entah kenapa seketika Jjesslyn merasa prihatin terhadap pria tampan dihadapannya ini.Justin masih dalam keadaan yang sama,menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya ini,namun Jjesslyn merubah mimik wajahnya dengan tatapan heran.

"Memangnya apa yang terjadi terhadap ayah mu?" tanya Jjesslyn,

"Orangtua ku bercerai disaat aku berumur 15 tahun.Dan sejak saat itu,maksud ku,2 tahun terakhir ini aku belum bertemu dengannya lagi" jawab Justin seraya mendongakkan wajahnya dan memejamkan matanya 

Jjesslyn mengelus-ngelus dengan lembut punggung Justin tanpa ragu,"Yah,aku yakin beliau pasti juga merindukan mu"
Kemudian Justin tersenyum miring dan mulai membuka matanya,Jjesslyn menjauhkan tangannya dari punggung pria itu.
"No,he didn't and never.Haha" tawanya terdengar dipaksakan,yah sangat dipaksakan

"Hm?why not?" tanya Jjesslyn lagi penasaran,ia merasa ingin tau banyak tentang Justin

"Yah,aku pernah bertemu dengannya sekali di toko baju,tapi apa?ia melewati ku dengan cueknya seperti tak mengenal ku.Aku yakin ia bahkan lupa mempunyai anak tampan bernama Justin.Atau bahkan ia lupa bahwa ia mempunyai anak?ah entahlah.I don't even care" Justin sedikit membumbui ucapannya dengan humor tapi alhasil Jjesslyn sama sekali tak tertawa,dan Justin menundukkan kepalanya
"Kau tak peduli?kau bahkan baru mengatakan pada ku bahwa kau merindukannya" Jjesslyn angkat bicara lagi,ia--justin-- tertawa paksa,dan mengepalkan tangannya dan meninju tanah yang tak bersalah ini,dan menundukkan kepalanya

"Konyol" gumamnya lirih yang pasti masih bisa terdengar oleh Jjesslyn

Jjesslyn sempat tersentak kaget melihat sikap Justin yang menyeramkan,"Hahaha,untuk apa.." Justin menggantungkan kalimatnya

"Untuk apa aku memikirkan orang yang bahkan belum tentu ia tau aku masih hidup atau tidak hah?!" Justin berteriak emosi,pipinya basah,tak salah lagi itu adalah airmatanya yang entah sejak kapan sudah mengalir.

Entah apa yang merasuki Jjesslyn saat itu sehingga ia menarik Justin kedalam dekapannya tanpa ragu,"Menangislah,aku tau kau memang lelaki.Tapi kau juga manusia,dan kau berhak untuk menangis.Maka dari itu menangislah.Tumpahkan semua kesedihan mu itu pada ku" Jjesslyn memeluknya erat seraya mengelus punggungnya untuk menenangkannya.
Justin menduduk-kan kepalanya di bahu Jjesslyn dan tersenyum tipis berusaha menutupi wajah tangisnya yang menurutnya memalukan 

"Yea,thankyou Jjess"

Jjesslyn POV

Sejak tadi ia memang terlihat sangat berbeda dari biasanya,tapi bahkan tadi dirumahnya ia enjoy saja berbincang dengan ku dan Ariana,tapi kenapa ia sekarang seperti ini?
Entah kenapa aku merasa sangat kasihan padanya,dan mata hazelnya yang memerah karena menangis,wajahnya pun terlihat merah menyala karena emosi,dan yang pasti matanya juga memancarkan aura kekecewaan dan kesedihan yang luar biasa sehingga aku sangat prihatin padanya.
Entah apa yang merasuki ku saat itu,aku memeluk Justin ke pelukan ku tanpa ba-bi-bu lagi,sudah cukup aku melihatnya menderita seperti itu.Aku tak tahan melihatnya terus menderita,jujur saja ini membuatku ikut sedih.
Aku mengeratkan pelukan ku,dan mengelus punggungnya lembut untuk menenangkannya,"Menangislah,aku tau kau memang lelaki.Tapi kau juga manusia,dan kau berhak untuk menangis.Maka dari itu menangislah.Tumpahkan semua kesedihan mu itu pada ku" 
Aku berusaha berkata lembut pada pria berambut spike ini,aku merasakan kepalanya di duduk-kan di bahu ku yang cukup kecil.
Aku merasakan nafasnya menembus pori-pori leher ku dan membuat ku sedikit gugup dan begedik,"Yea,thankyou Jjess"

Suaranya yang serak dan berat itu menurutku terdengar sangat sexy,yah suaranya hampir berbisik,tapi tepat ditelinga ku.Tentu saja aku bisa mendengarnya
Kemudian ia mengelus rambut ku lembut,disaat aku merasa ia sudah cukup tenang aku mendorong bahunya pelan untuk melepaskan pelukan ku dan membuat jarak diantara kami,"Jadi,sudah tenang?" tanya ku disertai senyum
Ia mengangguk dan membalas senyuman ku,"Terimakasih sudah mau menemani ku,hm,aku akan mengantar mu pulang"
Kemudian ia beranjak dan membantu ku berdiri,aku membersihkan bokong yang agak kotor,dan berjalan ke arah mobil audi Justin,ia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan ku masuk lalu menutupnya kembali,huh?tumben ia bersikap seperti itu
Ia berlari kecil mengitar mobil untuk meraih pintu kemudi,kemudian ia duduk dan menutup kembali pintunya,dan mulai menjalankan audinya itu dengan kecepatan standar.

Hening.

Itu lah suasana yang ada diantara kami,yah mungkin karena kejadian tadi.And,guess what?aku hampir lupa kalau aku harus mampir ke supermarket dulu untuk membeli beberapa keperluan untuk nanti malam,karena Ariana dan Justin akan menginap di rumah ku.

"Justin,turunkan aku di supermarket depan perumahan ku saja,nanti aku jalan dari sana,aku ingin membeli beberapa keperluan untuk nanti malam.Kau tidak lupa kan?kau dan Ariana akan menginap dirumah ku,dan aku rasa kau juga harus segera pulang dan mengemasi barang barang mu" ujar ku panjang lebar dan memecah keheningan

Justin menepuk dahi pelan,"Aku lupa.." serunya
"Baiklah,aku turunkan kau di sana.Tapi ingat,jaga dirimu! jangan sembarang percaya pada orang" lanjutnya

Kemudian aku memutar otak ku untuk mengulang memori yang terjadi di rumah Justin tadi,
"dan bahkan mungkin saja ia akan membunuh mu agar orangtua mu sedih dan menjadi bangkrut"
omongan Ariana yang tadi mengiang di kepala ku,"Ya ya Justin,aku bukan anak kecil lagi.Calm down,aku pasti akan sampai rumah dengan selamat" jawab ku

Beberapa menit kemudian aku telah sampai di supermarket langganan ku itu,bahkan aku mengenal pegawai pegawai disana,"Nah,see you later Just" ujar ku seraya membuka pintu mobilnya ia mengangguk seraya melemparkan senyumnya pada ku
Omg,tampannya.
Setelah aku turun Justin segera menancapkan gasnya dan memutar kembali ke rumahnya,pastinya untuk packing dan menjemput Ariana.
Tanpa basa basi lagi aku segera menapakkan kaki ku ke supermarket yang sudah tepat beberapa cm didepan ku.

Aku mengambil troly dan melajukannya kebagian daging,mungkin aku akan meminta Mrs.Victo untuk membuatkan beberapa makanan dengan bahan yang kubeli.
Oh iya,Mrs.Victo juga salah satu pelayan dirumah ku,tapi ia hanya mengurus bagian dapur,aku memanggilnya Mrs karena ia jauh lebih tua dari ku,yah kira kira setua ibuku.Tak seperti Samantha yang umurnya hanya beda 4 tahun lebih tua dari ku.Maka dari itu aku menganggap Samantha seperti kakak ku.
Aku menaruh beberapa daging segar yang sudah dibungkus ke troly,dan aku pergi ke bagian sayuran,aku membeli beberapa ikat sayuran juga.
Dan sekarang aku pergi ke daerah cemilan,aku membeli beberapa pocky dan biskuit dan beberapa makanan ringan lainnya yang bisa membuat ku kenyang di tengah malam.Yah aku memang sering sekali terbangun saat tengah malam dan pergi ke dapur untuk mengenyangkan perut ku yang didemo oleh cacing cacing.
Aku juga membeli jus jeruk,dan beberapa kotak susu karton,tentunya yang rasa vanilla.Aku memajukan troly ku kembali dan membeli beberapa bungkus permen Ricolla rasa lemon.Setelah merasa cukup akupun memajukan troly ku kembali ke arah kasir dan meletakkannya satu persatu,dan membayarnya.

Aku berjalan keluar super market dengan beberapa kantung belanjaan dikedua tangan ku,yah ku akui ini cukup berat malah sangat berat.
Akupun melihat ke jam tangan hijau tosca yang melingkar di tangan kiri ku waktu menunjukkan pukul 05:30pm.
Selama itukah aku berada dirumah Justin,menemaninya melampiaskan kesedihannya,dan belanja?!
Sebelum aku kerumah Justin tadi perasaan baru jam 1.30pm...
Hah,aku menarik nafas cukup panjang dan menghembuskannya kembali.

Aku jalan terpayah-payah menuju rumah,saat rumah masih berada beberapa meter di depan ku aku merasa benda pipih dikantung ku bergetar alias IPhone ku bergetar panjang menandakan ada Incoming Call aku mendiamkannya karena kedua tangan ku penuh dengan kantung kantung belanjaan ini.
Sesampainya dirumah aku segera menaruh belanjaan itu di meja dapur dan membiarkan Mrs.Victo membereskannya,aku merebahkan tubuh ku di sofa ruang tv yang bersebelahan dengan dapur,aku merasakan keringat meluncur deras dari leher ku.
Yah,cukup lelah.

Drrt Drrt

IPhone bergetar lagi setelah beberapa menit lalu bergetar di tengah jalan,tanpa basa basi lagi aku mengambilnya dari celana pendek selutut ku ini lalu melihat nama 'Justin Bieber' di layar benda tipis ini.

"Hello?"

"Astaga ! Kenapa kau baru mengangkat telfon ku setelah 4 kali aku menelfon mu?!"

Suaranya terdengar begitu panik,aku bahkan tidak merasa ia menelfon ku sampai 4 kali.
Ah aku begitu lelah

"Kau ini paranoid sekali.Aku baik baik saja,tadi aku sedang dijalan menuju rumah dari supermarket dan kedua tangan ku penuh jadinya tak bisa mengangkat telfon mu"

"Huh,dasar.Kau membuat ku khawatir"

Ujarnya lagi dengan suara desahannya di akhir kalimat
Omg.entah kenapa saat ia mengatakan itu sepertinya jantung ku mau melompat karena saking senangnya di khawatirkan oleh Mr.Bieber
Ah stahp ! untuk apa aku senang karena dikhawatirkan olehnya? Ayolah Jjess,dia sudah memiliki Ariana yang jauh lebih cantik dari mu !

"Jjess?"

panggilan dari sebrang telfon membuyarkan lamunan ku,

"Y--ya?" jawab ku tergagap

"Kenapa tadi diam?"

"Nothing,just..Yah,a lil bit tired"

"Baiklah,silahkan istirahat dan rapihkan dirimu Ms.Smith.Aku dan Ary akan berangkat kesana jam 7 malam dan mungkin akan sampai jam 7 lewat"

"Ok,see ya~"

Pip

Aku segera mengakhiri pembicaraan ku dengannya melalui benda tipis nan cerdas ini,dan beranjak mencari dimana Samantha,

"Mrs.Victo,Where's Samantha?" tanya ku kepada wanita paruh baya yang sedang membereskan belanjaan ku,yang tak lain adalah Mrs.Victo

"Oh,dia tadi ada di kamar kami sedang membaca novel.Susul saja dia" jawabnya seraya melemparkan senyumnya pada ku 

Akupun segera pergi ke kamar mereka setelah mengucapkan terimakasih,ya selama mom and dad pergi keluar negri selama 5 bulan.Aku disini hanya bersama Mrs.Victo dan Samantha yang menginap dirumah dan kamarnya ada di belakang,disamping kolam renang.
Pelayan ku yang lain diperbolehkan pulang,karena mom and dad hanya sepenuhnya percaya kepada Samantha dan Mrs.Victo,jadi ia tak perlu khawatir tentang ku.Dan tentunya beberapa security yang berjaga di luar.

"Samantha!" ujar ku cukup keras dan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya

Selang beberapa detik ia keluar,"Ada apa?" tanyanya

"Bisa bersihkan kamar tamu yang diatas sebelah kamar ku dan kamar tamu yang berada di dekat ruang tv?" ujar ku

"Ya tentu,but,kenapa?tumben kau menyuruh ku seperti itu,ada yang mau menginap?"

"Yah,sudah jelas bukan?"

"Siapa?"

"2 teman ku,satu diantaranya ada cowok,jadi kamarnya dipisah" 

"Whoa,memangnya Mr.William memperbolehkan cowok menginap disini?"

"Yah,dia anak baik baik.Kurasa dad juga tak akan keberatan"

"Baiklah,segera ku lakukan" 

Setelah memberi tahu Samantha akupun segera beranjak keatas dan menaiki satu persatu anak tangga ini dan pergi ke kamar mandi yang berada di kamar ku,aku segera menyalakan keran di bak mandi,tentunya dengan air hangat.Akupun menumpahkan sabun cair ke dalamnya,setelah penuh akupun membuka semua pakaian ku dan memasukkan tubuh ku dengan perlahan ke air hangat berbusa itu.

Ah,enaknya~

Aku menguncir rambut ku agar tidak basah,aku menyandarkan tubuh ku dan memejamkan mata ku,

"
Untuk apa aku memikirkan orang yang bahkan belum tentu ia tau aku masih hidup atau tidak hah?!"

Kata kata Justin yang beberapa jam lalu dikatakan masih terngiang di kepala ku lengkap dengan rekaman wajahnya.
Tergambar jelas,wajah tertekannya serta kesedihan dan kekecewaan bercampur satu.Mata hazelnya yang indah itu berubah memerah karena menangis,matanya memancarkan aura yang tak bisa dijelaskan.Mukanya merah menyala dan rahangnya mengeras,ia berkata seperti itu dengan sangat emosi,suaranya juga beberapa oktaf lebih tinggi dari biasanya,jujur saja saat itu aku memang tersentak kaget dan bahkan takut.Tapi entah kenapa hati ku bisa menyingkirkan semua perasaan itu dan menggerakkan tangan ku untuk memeluknya.

"Hah,entah kenapa aku tak bisa melihatnya tersiksa seperti tadi" aku bergumam dalam keadaan masih memejamkan mata ku

Sepertinya sudah 1 jam aku berada di kamar mandi dan berendam,aku melihat jari jari tangan ku yang keriput,yah sepertinya aku memang sudah harus keluar.
Yah,aku kebal kok.Tidak seperti orang orang diluar sana,baru berendam 1 jam saja sudah bersin-bersin.
Kemudian aku membalut tubuhnya dengan handuk yang sepanjang lutut ku,dan membungkus rambut ku.Aku tak terlalu sering menggunakan hairdryer karena itu bisa membuat rambut ku kering,jadi aku memilih untuk membungkusnya dengan handuk.Akupun membuka knop pintu kamar mandi dan melangkahkan kaki ku keluar dari ruangan itu.Aku menginjak lantai yang dinginnya seperti salju karena AC yang entah sudah sejak kapan menyala.

Aku menggigil seraya berjalan cepat menuju lemari,aku memakai baju putih lengan panjang ku yang panjangnya beberapa cm diatas lutut ku dan bertuliskan I'm Wild didepannya.Yah baju ini membuat ku terlihat tak memakai celana,ah masa bodoh yang penting aku tak kedinginan.
Dan kemudian aku memakai hotpants berwarna hitam.Setelah berpakaian aku duduk di bibir kasur dan mengambil IPhone ku,aku menatapnya tanpa melakukann apa apa pada benda itu.Dan aku menaruhnya kembali di meja dan meraih remote tv aku menonton film cartoon kesukaan ku,yaitu Spongebob Squarepants,berhubung sekarang sudah pukul 06.00 pm,dan pas sekali itu adalah jam mainnya cartoon itu di nickelodeon.
Aku segera menekan angka 125 untuk memindahkan channel,dan aku mendapati Patrick disana sedang berguling guling ditanah sambil menangis,yah ternyata sudah berjalan dari tadi.
Tapi aku tetap saja setia mengikuti jalan cerita itu.

Terkadang juga aku merenung,ingin sekali rasanya aku ingin menjalani hidup seperti cartoon itu,sepulang kerja menangkap ubur-ubur dengan sahabatnya,terkadang latihan karate dengan sahabat yang satunya,lalu menjadi anggota marching band demi sahabatnya.
Entah kenapa rasanya aku sangat iri,karena tokoh utama cartoon itu mempunyai banyak sahabat dan bebas melakukan apa saja sesuka hati.
Ah sudahlah,daydreaming ku ini bisa semakin gila jika dilanjutkan.

Aku terus menatap tv lcd yang menempel indah di dinding kamar ku dan menontonnya dengan enjoy,tak beberapa lama kemudian Samantha memanggil ku untuk turun kebawah dan menyantap makan malam.

Sesaat aku melihat jam sekilas,waktu masih menunjukkan jam 7.00 pm sedangkan Bieber dan pacarnya akan kesini jam 7 lewat.Baiklah,masih ada waktu~

Aku segera pergi kebawah dengan berlari kecil,tak lupa aku membawa IPhone ku ikut kebawah,tak mungkin aku meninggalkannya di kamar tanpa seorangpun disana.Nanti kalau ada telefon/sms penting kan bisa saja.

"Yey,Samantha!apa menunya hari in----" aku memotong kalimat ku,dan terbengong dengan pandangan didepan ku ini.
Penampilan ku sangat konyol,tangan ku diangkat ke atas dua-duanya dan tersenyum kegirangan karena makan malam sudah siap dan kaki yang diangkat satu keatas
And guess what?JUSTIN AND ARIANA WATCHING ME DO THIS RIDICULOUS THING! I'M SUCH AN IDIOT !


Aku menurunkan lengan dan kakiku bersamaan dan langsung menggaruk tengkuk leher ku yang sama sekali tak gatal.
Justin dan Ariana saling memandang dan kemudian memandang ku dari atas sampai bawah dan menatap ku heran seakan-akan aku ini pasien rumah sakit jiwa yang baru kabur.
Kemudian Justin menutup mulutnya yang aku yakin ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya,aku melihat Ariana melakukan hal yang sama.Aish,pasangan ini sama saja !
Aku menyenggol lengan Samantha dan menatapnya sinis,Samantha hanya berusaha menahan tawanya,begitu juga Mrs.Victo.Ah mereka berdua juga sama saja!

"Ah-eh,um..B-bukannya tadi sore kau bilang akan sampai sini sekitar jam 7 lewat?" tanya ku memecahkan suasana hening
Ariana masih tersenyum senyum berusaha menahan tawanya dan Justin masih menutupi mulutnya yang terlihat akan meledak jika ia melepaskan tangannya dari mulutnya itu,ia memalingkan wajahnya dari ku.
Ariana menengok ke arah Justin dan mencubit pelan lengannya seperti sebuah kode untuk berhenti tertawa.
Kemudian Justin kembali ke posisi awalnya dengan tawa kecil yang tak kunjung lepas dari dirinya.

"Hahaha,begini Jjess,tadi aku memang berniat datang jam segitu.Tapi si rambut merah ini terus terusan memaksa ku untuk segera berangkat.Dan akhirnya,ya here i am" sahut Justin yang tawanya mulai mereda

"Iya dia benar Jjess,maafkan kedatangan ku yang terlalu dadakan sehingga membuat mu......ah lupakan" lanjut Ariana menggantungkan kalimatnya kemudian tertawa

Aku memanyunkan bibirku dan membetulkan baju ku,dan segera duduk di kursi meja makan dan siap menyantap makanan makanan lezat yang berjejer rapih di meja.

"Silahkan duduk" ujar Samantha sopan pada Justin dan Ariana seraya menarikkan kedua bangku di meja makan

Yah Justin duduk di sebelah ku dan Ariana duduk di depan ku dan Justin.Ia tak mau bersebelahan dengan pacarnya sendiri huh?

"Kau tidak disebelah pacar mu saja Just?" tanya ku tanpa dosa

Seketika mereka berdua terdiam dan menatap ku dengan tatapan heran,kemudian tertawa

"Hah?apakah aku salah bicara?"

Justin POV

Setelah dipersilahkan duduk oleh pelayan Jjesslyn yang tadi kalau tak salah dipanggil 'Samantha' olehnya saat ia melakukan adegan konyol tadi.
Lol,i can't hold my laugh saat itu.
Dia benar benar terlihat sangat lucu dengan baju panjangnya yang terlihat kebesaran sehingga aku baru saja berfikir mungkin ia tak memakai celana?hm?tapi yang benar saja.....
Aku menduduki bangku disebelah Jjesslyn,dan Ariana duduk depan kami.
Tentu saja aku ingin duduk di sebelah-nya,apalagi setelah kejadian tadi,aku sangat ingin menggodanya kembali.

"Kau tidak disebelah pacar mu saja Just?" tanya-nya dengan wajahnya yang tanpa dosa itu

Aku bengong dan menatap Ariana sekilas lalu menatap Jjesslyn.Sepertinya Ariana juga melakukan hal yang sama dengan ku.
Kemudian aku dan Ariana tertawa bersama

Bagaimana tidak tertawa?ia menanyakan hal yang tidak akan pernah terjadi !
Aku dan Ariana bersaudara ! Bagaimana caranya aku berpacaran dengannya ?! Hahahaha
Aku menopang kepala ku dengan sebelah tangan ku,jujur saja,aku lelah tertawa karena sikap bodohnya.Tapi selalu saja itu bisa membuat ku tertawa lepas.

"Hah?apakah aku salah bicara?" Tanyanya lagi seraya memasang tampang bodohnya

"Ya,kau salah Jjess,sangat salah" sahut Ariana disebrang meja dengan tawa di sela-selanya,Jjesslyn menatap kami berdua bingung

"Hah,masih tidak mengerti ? Kau salah paham Ms.Smith.Kami berdua tidak pa-ca-ran" balas ku dengan sedikit penekanan di akhir kalimat

Dia menatap ku dan Ariana bergantian dengan tatapan polos serta bodohnya itu.

"Seriously?" tanyanya lagi.aih bodohnya

"Ya!" ujar kami berdua -justin dan ariana- serempak

Kemudian dia terdiam menatap kami berdua bergantian,dengan tatapan tanpa dosanya itu kemudian tertawa dan mukanya memerah,"Hehe,berarti selama ini aku salah sangka ya" ujarnya seraya menggaruk kepalanya yang menurut ku sama sekali tak gatal.

Aku mendengus kesal,Ariana hanya tertawa.
"Aku dan Ariana ini bersaudara,c'mon,tak ada apa-apa diantara kami !" ujar ku

Dia memiringkan kepalanya dan menatap ku dan Ariana bergantian,kemudian ia menyipitkan matanya "Tidak mirip sama sekali.." sahut Jjesslyn

"Banyak yang belum kau ketahui tentang ku Jjess," balas ku

kemudian ia sempat bengong sejenak untuk mencerna kata-kata ku,dan suasana antar kami adalah,hening.

"E-eh,um,si-silahkan dimakan!" akhirnya Jjesslyn angkat bicara untuk memecahkan keheningan,"Sehabis makan akan ku tunjukkan kamar kalian" lanjutnya dengan penuh senyum.

Ah,she's so pretty.

Aku dan Ariana hanya mengangguk dan tersenyum,kemudian mulai menyantap makanan kami.

Jjesslyn POV

Ah,syukurlah.
Ternyata mereka bersaudara,bukan pacaran...

...

Bodoh !
Apa yang harus aku syukuri jika memang mereka tidak berpacaran? Jealous,huh?
No no no,calm Jjess,you don't like him.
Ok
And never,

"Banyak yang belum kau ketahui tentang ku Jjess," balas Justin

Kedua mata hazelnya tertuju pada ku,huh,lagi lagi tatapan ini berhasil mengalihkan perhatian ku.
Aku sempat tenggelam dalam matanya yang sangat indah itu.

"E-eh,um,si-silahkan dimakan!" akhirnya aku angkat bicara setelah berlama-lama terhipnotis oleh sepasang mata hazel itu,"Sehabis makan akan ku tunjukkan kamar kalian" lanjut ku dengan seulas senyum di bibir ku.

Justin dan Ariana menatap ku kemudian mengangguk dan tersenyum,kemudian kami menyantap dinner kami bersama.

-Skip-

“Hah ?! Aku dibawah sendirian ?!” ujar Justin kaget

Omg,his face...
Biarpun kaget,nangis,tertekan,senyum,atau apapun pasti dia selalu tampan.
Ah—

“Ya,karena....kau adalah satu-satu lelaki yang ada di rumah ini selain security” sahut ku menahan tawa

Justin mengacak rambutnya lalu mendesah pelan,haha.His pout face....so damn cute.

Aku sempat mendengar ia mendengus dan menggumamkan kata-kata kotor like ‘fck’ ‘shit’ ‘hell’

“Ck,baiklah baiklah !” dia mulai menggotong koper koper dan tas gitarnya masuk ke dalam kamar yang aku tunjukkan.

Ariana hanya menatapnya seraya tertawa,”Lalu,kamar ku?” tanya Ariana

“Ah,ada di atas.Bersebelahan dengan kamar ku” jawab ku penuh senyum

Entah kenapa kini hatiku rasanya sangat lega,dibanding tadi sore.
Yah,aku juga bingung tentang perasaan ku.
Disaat aku mengetahui ia dan Justin pacaran rasanya aku tak rela, Is this called jealousy?
---Ah,whatever.

“Ya ya kalian berdua diatas dan aku sendirian di bawah.Terimakasih Ms.Smith terimakasih !” Justin terus mendumal dari dalam kamar,terlihat dari luar ia duduk di pinggir kasur seraya men-tune gitarnya

“Jika kau tak suka kau bisa keluar sekarang Mr.Bieber” sahut ku dingin

Dia hanya mendecak kesal dan memutar bola matanya,tanpa menghiraukannya aku pergi ke atas dan menunjukkan kamar Ariana.

“So,here,your room~” ucap ku seraya membukakan pintu kamar yang tepat berada di sebelah ku

“Whoa,luasnya~ ini benar benar kamar tamu?terlihat seperti kamar utama!” ujarnya seraya melangkahkan kaki ke dalam kamar tersebut.

Huh?
Padahal aku yakin kamar dirumah Justin yang ia tempati itu pasti lebih besar dari ini.
Ck

“Ini kamar tamu,haha.Disebelah kamar mu ini tepat sekali kamar ku,jika butuh apa apa katakana saja ya” ujar ku seraya keluar dan menutup pintunya

Aku sempat melihatnya tersenyum dan mengangguk ke arah ku sebelum pintu ditutup.
Aku juga segera menuju kamar ku dan merebahkan tubuh ku ke kasur,aku menyalakan tv ku untuk mencari channel yang memutar film bagus.

Drrt Drrt

IPhone ku bergetar,aku melihat ada Incoming Call dari Austin.
Tanpa basa basi aku menjawab panggilan itu,

“Yo,whats up?”

“Justin menginap dirumah mu?!”

Aku sempat menjauhkan benda tipis ini dari kuping ku karena suaranya yang menggelegar.
Bagaimana tidak?Dia berteriak tepat di kuping ku
Ah,back to topic,dari mana dia tau?

“Ck,mahone.Kecilkan volume suara mu” ucap ku seraya mendecak kesal

“Ya ya setidaknya jawab pertanyaan ku dulu”

“Memangnya kalau iya kenapa?”

“Ck,ternyata Jjesslyn yang polos sudah menjadi wanita dewasa”

Aku sempat terdiam mencoba berfikir apa yang dimaksudkan oleh pria yang berada di sebrang telfon ku ini

“What do you mean?”

Aku hanya dijawab oleh decakan kesal dari sebrang sana,ia terdengar sedang menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan

“Cobaan apa sih yang tuhan berikan pada ku sampai memiliki sahabat seperti mu,huh?”

“Tak ada yang meminta mu untuk menjadi sahabat ku anyway”

“Just kidd Jjess,btw,kenapa bisa?”

“Yah,kenapa tidak?”

“I thought ayah mu tidak memberikan izin untuk seorang lelaki menginap”

“Ini lain cerita,memangnya kenapa?kau ingin bergabung?” tanya ku asal

Terdengar desahan berat di sebrang sana,”Yah,aku mau sih....but I’m not in the good mood”

Suaranya terdengar sangat pelan di akhir kalimat,tapi tentu aku bisa mendengarnya
What’s wrong with him,hm?

“What?”

“No-nothing”

“I know you say something,so,kau mau bercerita kapan?”

“Bhahaha,you know me too well Jjess.Ok,I’ll tell you....” ia menggantungkan kalimatnya lalu mendesah berat,yah,memang terlihat sekali ia sedang memiliki masalah.

“My girlfriend..” lagi lagi ia menggantungkan kalimatnya

Aku hanya diam menunggu ia melanjutkan kalimatnya yang tergantung itu

“She cheated on me.....” lanjutnya dengan suara yang sangat parau,yah,sudah kuduga pasti ia memiliki masalah

“HOW COME?!” suara ku sepertinya berhasil membuat ia hampir menjatuhkan handphone-nya

“Jjess ! Pelankan suara mu bodoh !”

“Revenge is sweet bro.Ok back to the topic,how could she cheated on you?hm,I mean,kau tau dari mana?”

Lagi lagi terdengar helaan nafas dan desahan yang berat darinya.Yah dia sudah menjalin hubungannya sebelum ia masuk kampus ini.Ia juga sering bercerita tentang pacarnya,yah,aku juga pernah diperkenalkan dengan pacarnya.Pacarnya adalah
They’re so sweet,and..She cheated on him?I mean,lelaki sebaik Austin saja diselingkuhi olehnya?She’s insane !

“Tadi setelah pulang kampus aku buru-buru pergi ke starbucks karena ia yang berkata ingin bertemu.But,you know?aku malah melihat ia berciuman dengan lelaki lain.haha,lucu bukan?”

Aku sempat terdiam untuk mencerna katakata-nya barusan,ia tertawa dengan terpaksa,sangat terpaksa.
Jelas,jelas sekali ia sangat....patah hati?

“Strong bro, You deserve receive a better–“

“Aku tau apa yang akan kau katakan Jjess,haha.Baiklah,I know,but....aku rasa aku sekarang tidak mau focus pacaran lagi.Terimakasih sudah mendengarkan curhatan ku.Goodnight”


Pip

Dia langsung menutup telfonnya,
Weird,
Jarang sekali ia bersikap seperti ini.

Apakah semua lelaki selalu menyimpan kegelisahan,kesedihan,dan semua rasa kekecewaannya di balik muka yang selalu berseri-serinya itu?

**
Austin POV

“Shit.”
“Fck.”
“Hell.”

Entah kenapa sedari tadi aku senang sekali mengumpat kata kata kasar,
Yah ini juga karena kelakuan that bitch,yea,my ex.
She’s cheated on me.
Haha
Funny.

“HELL !” kata kata itu terlontar dengan sendirinya dari mulut ku,tangan sebelah kiriku membanting IPhone ku ke kasur.

Yah,aku belum cukup gila untuk melempar benda itu ke lantai.

Aku melempar diriku di kasur,dan menutup mata ku.Tanpa sadar,tergambar wajah my-ex.
Aku sesegera mengutuk diriku sendiri,masih saja aku memikirkannya !
Fck.Go away ! Go away !

“Jjess,” gumam ku pelan,

Aku tau tadi disaat aku memotong kalimatnya,pasti dia ingin berkata “You deserve receive a better girl,more than her”

More than her?


To Be Countinued..

No comments:

Post a Comment